Bernas.id – Salah satu perhelatan dunia retail Indonesia telah selesai, ya Internet Retailing Expo yang telah berlangsung tiga kali. Kegiatan tahun ini mungkin tergolong unik, karena mengangkat tema Transforming the ASEAN retail landscape. Lalu, apanya yang bertransformasi?

Dalam kegiatan 2 hari ini, banyak hal menarik yang kami jumpai selama mengikuti kegiatan disana. Pertama, hampir semua pengusaha retail telah mempertimbangkan dan bahkan menggunakan media online dan Internet sebagai salah satu media transaksi. Jadi bukan hanya untuk promosi, mereka bahkan menggunakannya untuk media transaksi. Selama ini, meskipun mereka tetap memiliki dan mengelola toko, tapi toko online telah dibuka. Ada beberapa pengusaha bahkan mempersiapkan perusahaan khusus untuk mengelola transaksi online. Artinya, semua pengusaha retail mulai memaksimalkan potensi online mereka dengan menyediakan website, portal, dan bahkan bekerjasama dengan marketplace yang ada.

Ini menarik. Dalam berbagai kesempatan, pengusaha retail diajak untuk membuat website, mengelola portal website online. Tapi sekarang mereka sadar, bahwa membangun website, artinya juga membangun brand baru. Membuat pengunjung, customer mereka untuk membeli online saja sudah menjadi tantangan, ditambah lagi dengan membuat website dan portal transaksi. Jadi cara tercepat adalah menggunakan dan bekerjasama dengan marketplace yang telah ada. Dan ini banyak kita lihat setahun belakangan ini, dimana mereka menyebut dirinya ‘Toko Resmi’ (official stores).

Di satu pihak, ini tren menarik dan menguntungkan bagi pelanggan dan pemilik produk. Tapi ini juga tren mengerikan bagi distributor, dealer ataupun reseller (atau retailer) yang selama ini berinteraksi dengan pelanggan. Oleh karena itu, para pemilik produk harus mempertimbangkan mekanisme harga dan menjaga harga, agar tidak terjadi kekecewaan di kalangan reseller yang selama ini telah membantunya.

Kedua, kunci kesuksesan bertransaksi di dunia Internet ternyata bukan hanya pada berapa jumlah pelanggan, tapi juga konten, komunitas dan data. Nah, ini yang sering kita lupa. Kita hanya berfokus pada angka, dan angka adalah pelanggan. Tapi juga kita harus membina pelanggan kita, dengan memperkaya pengetahuan produk, teknologi dan solusi terkait produk kita. Kita harus membina mereka dalam komunitas. Dan semua akan menghasilkan kinerjak optimal. Demikian pula dengan kekayaan data. Tiap marketplace, atau portal online transaksi kita harus bisa membaca ini. Tentu tidak mudah, tapi kita bisa lakukan dengan cara yang paling mudah. Pernahkan kita tahu berapa banyak pembeli kita dari daerah mana saja, apa yang membuat mereka tertarik untuk datang lagi, berapa nilai transaksi terakhir, kapan mereka membeli, wah banyak sekali yang kita bisa gali dari data pelanggan kita. Hingga ada perusahaan yang berfokus menggali interaksi pelanggan (customer engangement).

Tren menurunnya transaksi retail Indonesia memang harus dicermati. Tapi dengan tetap semangat dan memaksimalkan berbagai cara, terutama terkait dengan menggunakan media Internet, baik untuk transaksi online, ataupun mulai dengan digital marketing. Ingat, rata-rata konversi e-commerce Indonesia adalah 1.1% dibandingkan global yang mencapai 1.58%. Peluang masih besar di depan kita. Tinggal kita tetap semangat dan menatap cerah dunia retail Indonesia.

sumber: https://www.bernas.id/59653-tetap-menatap-cerah-dunia-retail-indonesia.html

Tetap Menatap Cerah Dunia Retail Indonesia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: